Mencintai Pekerjaanmu-Loving Your Job

Language:

 

Teman-teman tersayang,

Hai hai, apa kabarnya? Sehat dan happy selalu yaa!

Post kali ini aku buat bahasa indonesia ya, gantian.

 

Tak terasa, sudah Desember lagi, tak terasa sudah mau ganti tahun lagi. Rencana apa nih tahun baru nanti? Asyik ya, semua pasti sudah punya rencana masing-masing dengan keluarga, pasangan atau teman-teman masing-masing. Lalu, sudah selesaikan semua pekerjaan dengan apik supaya bisa tahun baruan dengan aman dan senang? Ayo, semangat! Selesaikan semua dengan baik ya, supaya saat tahun baruan gak ada gangguan apa-apa.

Terakhir kali aku kerja di tahun 2012, di hotel di Bandung.  Setelah itu aku keluar dan usaha sendiri. Tahun ini, aku total istirahat karena memang belum ada lampu hijau dari dokter untuk bisa aktivitas seperti dulu lagi. Malahan kemungkinan tidak akan pernah boleh punya aktivitas seperti dulu lagi. Aku akui aku kelewat sibuk sih.  Aku punya tiga bisnis bersamaan, restoran (tutup di 2014 ?), katering dan media. Apa mungkin sangat sibuk itu jadi obat sedih untukku, atau aku memang suka kerja dan produktif, karena bagiku produktif itu adalah kebahagiaan. Melakukan sesuatu yang aku cintai adalah pekerjaan. Dan itu adalah alasan utama saat aku keluar dari pekerjaanku, dan memulai usaha sendiri.

Banyak sekali sahabat dan teman-teman yang menyayangkan keputusanku untuk keluar dari pekerjaan yang bermasa depan cerah dan uang melimpah di perhotelan. Mereka bilang aku bodoh untuk keluar dan melepaskan semua yang sudah aku raih dengan kerja keras itu. Jabatan terakhir ku itu sales manager, dan aku sudah dapat penawaran jadi Assistant Director of Sales dengan gaji dua kali lipat gajiku waktu itu. Aku terpaksa tolak, meski sebenarnya sangat amat menggiurkan. Tentunya lah, hampir saja aku terima. Dan percayalah memutuskan menolak pun tidak mudah.

Bagaimana, bodoh ya?

Begitulah kata para sahabatku, aku bodoh. Aku maklum, dan aku mengerti pendapat mereka, tapi mereka juga harus tau alasanku melakukan itu. Ada sebuah kejadian besar dalam hidup yang menyadarkan aku dengan cepat tentang ini, dan aku bersyukur aku sudah mengambil keputusan demikian dulu. Menurutku, aku tidak salah. Menurutku loh…

Semua itu dimulai sejak aku melihat banyak teman-temanku mengeluh tentang pekerjaannya, dan yang paling memukul batin itu waktu aku ditinggal pergi suamiku. Disana aku mulai berpikir, bertanya, dan mempertimbangkan, apa yang sebenarnya paling ingin aku lakukan di hidupku? Apa aku sudah melakukannya? Ataukah seumur hidup nanti sebuah keinginan hanya jadi keinginan semata yang tidak bisa terjadi. Bagaimana jika aku mati sebelum aku melakukan apa yang benar-benar ingin aku lakukan?

Terur terang, aku menyukai pekerjaanku dulu. Ada uang, prestise, dan mengandalkan kecerdasan juga komunikasi sosial. Tapi setelah aku bertanya pada hatiku, dia menjawab lain. Aku mencintai hal yang lain, bukan pekerjaanku saat itu. Aku hanya sebatas suka, bukan cinta padanya. Dan akhirnya, aku mulai mencari apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku cintai. Ternyata, semua mulai jelas saat aku putuskan membuat usaha sendiri. Itu adalah impian, yang harus aku wujudkan sebelum aku mati (padahal sama sekali belum tau aku akan sakit).

2012, aku putuskan membuat usaha sendiri. Hasilnya, restoran gagal, katering dan media setengah sukses karena aku keburu sakit, jadi saat ditinggal ya usaha itu berantakan. Setengah mati pusingnya hutang bank mandek, karyawan kabur, kerampokan, dan lain-lain karena aku tidak  bisa awasi lagi usaha-usaha itu. Pokoknya, sakit kepala jadi pengusaha ternyata ??… Aku masih ingat saat karyawan harus gajian dan kami tidak dapat pemasukan cukup, susah tidur, bahkan aku sempat sampai terbangun dini hari dan ambil kalkulator, menghitung, dan baru bisa tidur lagi, setelah akhirnya menemukan solusi cepat setidaknya untuk besok. Jadi pengusaha ternyata artinya lebih banyak tanggung jawab, pikiran, meski kalau sudah berhasil diganjar keuntungan besar. Belum sempat sampai dapat keuntungan besar, aku sakit. Dan dilarang punya pekerjaan atau usaha yang buat kepalaku pening seperti dulu. Padahal aku yakin, jalanku adalah bisnis sendiri. Jadi aku harus bagaimana?

Teman-teman, aku bersyukur punya keluarga yang mendukung dan mencintai aku apa adanya. Juga beberapa teman yang selalu ada disisiku dalam susah senang. Beberapa dari mereka mengingatkanku, “kamu jadi penulis seriuslah, tulis lagu, tulis buku, buat penerbit sendiri.”

Lampu di kepala langsung menyala. Ya Tuhan, aku sudah bilang mau buat penerbitan dari beberapa tahun yang lalu loh. Karena tergiur pada uang dan lainnya, aku tunda terus padahal aku ini dasarnya suka sekali menulis. Apapun, lagu, novel, prosa, dll. Dan hanya saat sedang menulis aku bisa benar2 merasa nyaman, seakan aku ada di duniaku sendiri. Akhirnya akhirnya akhirnya, aku sadar…. Panggilanku adalah menulis dan kawan-kawannya. Aku tau, dunia itu adalah apa yang benar-benar aku inginkan dan pasti aku butuhkan tanpa aku sadari. Menulis adalah hobi dan seperti terapi batin yang gratis. Aku bisa menulis dimana, tentang apapun, seperti apapun tanpa mengenal batas. Ada malah ide prosaku yang tercipta di depan toilet mall, karena temanku lama sekali pipisnya ??… Aku menulis karena aku suka, dan aku tidak punya beban apapun saat aku menulis. Aku sangat bahagia dan bisa terlarut dalam prosesnya, hingga kadang asyik sendiri.

Itu dia! Itu dia akhirnya aku temukan panggilan jiwaku. Menulis. Aku tau kalau aku melakukan itu pasti aku bisa tekun dan bahagia. Karena akhirnya aku benar-benar melakukan apa yang aku cintai. Akhirnya aku bisa bekerja di bidang yang adalah hobiku. Bukan cuma karena uang, tapi juga kebahagiaan batin. Melampaui masalah hidupku, aku sudah cukup bijak hingga akhirnya aku tau uang itu bukan segalanya ??, akhirnya sadar juga. Nanti lain kali ya aku bahas ya apa sih yang lebih penting dari uang.

The things you are passionate about are not random, they are your calling -Fabienne Fredrickson

Betul deh. Beruntung sekali orang-orang yang berkesempatan menjalankan panggilannya. Aku sudah melihat sendiri bagaimana beruntungnya orang-orang yang menghasilkan uang dari hobinya. Mereka luar biasa bahagia dan bijak dalam kehidupan. Karena mereka bekerja tanpa beban, dan apapun masalahnya akan mereka hadapi dengan ikhlas, tekun, dan tenang. Karena mereka melakukan apa yang mereka cintai. Lain halnya jika seorang manusia benci pekerjaannya, saat diberikan masalah rasanya makin malas angkat kaki berangkat ke kantor kan? Inginnya balik kanan bubar jalan. Nah! Kenali gejalanya, artinya apa kamu sudah melakukan hal yang sesuai hatimu? Sampai kapan kamu akan menunda? Aku cukup tau, masa depan itu benar-benar penuh kejutan. Apakah siap untuk pergi dari dunia sebelum benar-benar melakukan apa yang kamu cintai?

Renungkanlah teman-teman. Jangan menanti sesuatu datang ke hidupmu, tapi berbuatlah sesuatu untuk hidupmu. Kendali sepenuhnya ada di tanganmu.

Aku akan teguh untuk menulis dan membuat penerbit sendiri. Itu sudah panggilanku, semoga Tuhan memberkati. Tahun depan, aku akan terbitkan buku pertamaku, kumpulan prosa dan satu cerita panjang. Fiksi. Kalau sudah terbit, dibeli dan dibaca yaa. Jangan ditaruh di rak dan dicuekin. Hehehe…

Belum beres sebenarnya tentang post ini, tapi teman-temanku sudah jemput nih, aku sedang di Jakarta reuni dan ketemu banyak sahabat. Nanti aku cerita lagi ya tentang hal ini. Jangan lupa, cintai apa yang kamu lakukan, maka bahagia akan selalu bersamamu.

Sampai ketemu lagi teman-teman.

 

Salam Sayang,

 

Love,

Ananda Ramartha

 

 

 

 

 

 

 

You may also like