PRU CHALLENGE WINNER

chooselanguage/pilihbahasa

 

Dear Friends,

Taraa, foto challenge ketjee yah! Totalitas Dek Annisa ini memang selalu warbiyasahh! Tuh liat, foto instagramnya aja seger banget kayak reviewnya hahaha…

 

 

 

Review (ulasan) + Komentar:

 

Buku ini mengisahkan tentang seorang musisi jenius kaliber dunia bernama Satyo Damar yang sedang melakukan pelarian ke kampung halaman di Jogja dari hingar bingar dunia keartisannya.

Namun ternyata takdir justru mempertemukannya dengan Tiara Hanum, sahabat masa mudanya yang memendam dendam dan amarah kepada Tyo akibat dari perlakuannya saat Prom Night di penghujung masa SMAnya

Tyo melakukan segala cara agar dimaafkan oleh Rara, salah satunya dengan setiap pagi menyajikan mawar kuning dan kopi arabika kesukaan Rara, Damarabika…

Diantara petikan melodi, sajak, kopi dan masa lalu, Tyo dan Rara menjalani kisah kasih, membuka diri masing-masing tentang luka lama masa lalu atas nama “sahabat sejati”.

Namun ada hal yang tidak mereka sadari sejak lama, bahwa mereka akan selalu terikat dalam Melodi Damarabika…

***

Alasan pertama saya membaca novel ini, pertama setelah sebelumnya sempat di follow sama Pru dan Kak Nanda, saya kepoing webnya Kak Nanda, Penerbit Pru, dan alasan-alasan sampai terciptanya buku ini, untuk saya orang yang mudah terpengaruh atas dasar-dasar kemanusiaan, jelas saya akan membaca buku ini hehe.

Saya melahap novel ini dalam waktu 3 hari, wow, padahal #tbr saya yang seharusnya dibaca sebelum buku ini masih banyak, alasannya klise karena buku ini sampai tanpa segel (ada ttd penulis) yeay!.

Kesan pertama saya atas novel ini, sedikit heran dengan bonus prosa yang ditaruh diawal bukan di akhir, jadi 57 halaman awal akan dihabiskan dengan membaca lima prosa dengan chemistry yang berbeda-beda dan sama kuatnya, saya terkesan pada bonus prosa awal terutama “Rindu I Love You” dan “Teman dalam Lingkaran”, jujur saya dibuat menangis atas 2 prosa awal itu, entah saya yang “baperan” atau memang cerita yang diangkat begitu menyentuh hati, seakan-akan berdasarkan pengalaman si penulis sendiri, yaa siapa tau?.

Tentang Melodi Damarabika sendiri, saya tersenyum-senyum sendiri dari beberapa lembar awal, bukan karena ada kelucuan, tapi karena cara si penulis yang menuliskan dialog dengan berbahasa jawa, jadilaaaahhh, berhubung saya bukan orang jawa, jadi agak merasa berdebar-debar, takut dibelakang-belakang ada dialog yang saya tidak mengerti, beruntung bahasa jawa yang dipakai adalah bahasa jawa sehari-hari yang cukup sering saya dengar dan mudah dipahami, oleh orang awam berbahasa jawa sekalipun,

alur maju mundur yang diusung oleh penulis mungkin awalnya akan sedikit membingungkan pembaca, namun semakin kebelakang, alur tersebut justru menjadi bagian tidak terbantahkan dari novel ini sendiri, yaa contohnya saya yang menikmati alur maju mundur belok kanan kiri(?)nya dengan nyaman.

Ending?, yaa saya selalu menyukai novel standalone yang berakhir dengan kejelasan tanpa harus menebak-nebak apa yang terjadi selanjutnya, dan saya menyukai ending dari Melodi Damarabika, yaa happy ending akan selalu menyenangkan.

Saya bukan penikmat kopi (karena tidak bisa minum kopi) namun saya ikut menikmati kopi dalam cerita dibuku ini, untuk penggemar metropop, jangan lewatkan novel ini, saya pikir, kamu pasti akan menyukai novel ini.

 

Dan percayalah, buku yang bagus tidak selalu datang dari penerbit mayor kok…

4,5 Bintang untuk Melodi Damarabika

 

PS: Gara-gara buku ini saya jadi kangen jawa, kraton, alun-alun, gudeg sekitar alun-alun dan penasaran sama “masangin”.

Ulasan & Komentar oleh : @alineafajr

 

Tuh kan ciamik reviewnya.

Alur maju mundur memang kadang mengkhawatirkan Sang Editor tercintah Si Mas Danis yang berulang-ulang mengingatkan aku untuk memperjelas ini cerita masa lalu atau masa sekarang, baiknya dikasih kejelasan di judul atau pembedanya. Tau gak apa, jujur aku justru lebih suka pembaca tidak tergamblangkan ini cerita lalu atau sekarang, karena aku suka dengan tipe seperti itu, contohnya Saman, Ayu Utami, dibuat mikir. Tapi aku belum sesadis itu kok, akhirnya ngalah juga kan dikasih sedikit tanda kalau lagi cerita masa lalu mereka, hehehee… Maybe next time, gak akan ada ampun lagi ;p

 

Annisa memang jelas terlihat suka mereview dan aktif di dunia perbukuan, aku tau tentangnya saat dia mereview Melodi Damarabika. Tim Pru jadi kepincut sama instagram Icha yang selalu membuat kita belajar banyak tentang buku dan pemasarannya.

Semoga menang Challenge ini akan membuat kamu jadi semakin giat membaca ya. 500 ribunya sudah dipakai jajan apa cha? Taunya “disumbangkan Kak,” langsung sujud sembah ku padamu!

 

So there they are! The Favorites and Winner of Pru Challenge 2017!

 

Ready for Pru Challenge 2018??

 

 

Love,

Ananda

 

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *